[Cerpen] I'm Legend

November 25, 2018



Sumber : Pixabay.com


       “Menurutmu, kau akan menjadi juara dengan cara seperti ini?” sahut pria bertubuh kekar dengan mengusap keringat di seluruh wajahya.
          Aku membalasnya dengan nyengir, hanya tertarik dengan sepasang kakiku di atas rerumputan yang di penuhi dengan air asin. Mungkin ini bukan pertanyaan pertama untukku, bisa dibilang salah satu pertanyaan diantara rangkaian pertanyaan sejak aku mogok dan memilih kabur dari kenyataan yang melelahkan itu.

         Mungkin secara sisi ada benarnya pertanyaan mereka, tapi, jika ku pikirkan dengan panjang, tak ada salahnya jika aku fokus untuk rilek menikmati hidup. Anggap saja ini hari – hari liburku sebelum aku berjuang lagi dengan pasukan asamnya kenyataan.
         Sebenarnya aku tak pernah berpikir bahwa hari ini aku akan berlari mengelilingi komplek dan terjebak macet oleh kerumunan masa yang menikmati akhir pekannya, apalagi sampai bertemu Andi yang ternyata sedang berlari dengan alasan agar sehat, padahal kita berdua sama – sama sedang kabur dari kekacauan hati.
    “Kau percaya aku akan memang?” tanyaku sambil merebahkan tubuh dan menarik nafas panjang.
       “Hah... Tragis!” tambahku lagi.
     “Entahlah! Aku tak paham masalah penilaian para juri memenangkan sang juara bagaiaman, tapi, jika kau hanya diam saja tanpa melakukan apa – apa kemungkinan menang. Jika tidak menang setidaknya ada peluang masuk babak semi final, tapi lebih baik final sih. Kan kau sudah usaha sebaik mungkin” Andi langsung tersenyum lebar berharap aku kembali ke ruang eksperimenku.
     Masih ingat bagaimana aku berjuang ketika ujian nasional, mati – matian belajar dari pagi sampai malam bahkan sebaliknya demi dapa nilai bagus dan dianggap menjadi pemenang oleh orang – orang dengan nilai tertinggi. Tapi ternyata, fakta mengatakan lain, meskipun aku juga sudah menjaga kondisi badan fit sampai minum vitamin, hasilnya, tak sebagus apa yang aku pikirkan.
       Nilaiku pas – pasan, bukan terbaik se sekolah. Padahal aku sudah les privat, seluruh kisi – kisi aku pelajari dan aku sudah cukup paham apalagi aku les pivat yang membahas detai seluruh soal ujian. Tapi hari itu aku tak melupakan do’a untuk bisa mengerjakan soal ujian. Jadi rasanya usaha dan do’a tak menentukan aku akan jadi juara pertama secara umum, melainkan juara pertama dalam hidupku.
     “Bukan aku tak mau lagi bermain dengan segerombolan bawang merah yang pernah membuatku menangis kala itu, tapi aku ingin menetralkan pikiranku yang kacau” ungkapku masih dengan memandangi langit.
    “Tapikan, kau sudah berjuang mati – matian hingga titik ini bro!” jawab Andi sambil mengikutiku merebahkan badan di atas kumpulan rumput.
       “Aku tahu. Tapikan kau juga tau. Bahwa kita juga butuh istirahat, anggap aja break agar bisa fresh lagi. Orang para pekerja kantoran aja ada libur dihari Minggu, masa aku enggak boleh? Aku kan juga pekerja, meskipun hanya seorang koki...” jawabku membela diri.
        “Iya sih. Tapikan...” Protes Andi yang langsung ku potong.
      “Intinya aku sudah usaha sebaik mungkin, jika pada akhirnya aku harus gugur sebelum semi final, berarti itu yang terbaik untukku. Jika memang pada akhirnya aku masuk final dan jadi pemenang, maka itu yang terbaik untukku dari sang Pencipta. Apapun jawabannya, aku tetaplah pemenang Ndi! Aku adalah sang legenda di hidupku sendiri” ungkapku dengan santai dengan harapan Andi tak mengajukan pertanyaan lagi.
       “Bentar. Jadi maksudmu, apapun hasilnya kau tetap sang legenda. Bukan karena juara satu yang diakui oleh orang sejagat, tapi diakui oleh diri sendiri? Percaya diri banget sih loh...” Jawab Andi dengan kesal.
       “Hm... Inilah faktanya. Setiap orang adalah sang legenda. Tak perduli mereka di anggap baik atau buruk oleh orang lain, tapi yang jelas, mereka adalah pemeran utama di hidup mereka, dan pastinya, mereka akan tetap menjadi legenda sejak nafas pertama tercipta. Dan...” belum sempat menyelesaikan jawabanku, Andi langsung memotongnya.
       “Stop! Aku paham. Aku paham. Tuan Anggara Budiono. Jangan di lanjut lagi. Mending ayo kita lari lagi dan berpisah di persimpanga jalan!” Andi kesal langsung bangun dan menarik tanganku.
      Rasanya memang benar, setiap orang tercipta sebagai sang pemenang, sebagai sang legenda. Sedangkan jurinya bukan para manusia yang mencibir kurang lebihnya diri manusia, melainkan diri sendiri, dan tentunya sang pencipta. Jadi, dunia belum berakhir jika kalah begitu saja di tengah arena, meskipun merasa sudah melakukan yang terbaik, baik dengan berdo’a dan usaha.
I’m Legend. Ini bukan hanya untukku sang koki gadungan, tapi untuk seluruh manusia tanpa terkecuali, termasuk Andi yang sedang berjuang untuk bisa masuk tim nasional ungkapku lirih sambil berlari mengikuti Andi yang sejak tadi memanggilku untuk segera kembali ke lintasan lari di pinggiran stadion.

You Might Also Like

0 comments